Dukung

Bali Tolak Gas Fosil

Gas Bukan Solusi: Gas Membawa Bencana dan Gas Menghambat Bali untuk Mandiri Energi.

Pemerintah Provinsi Bali sedang mendorong transisi energi untuk kemandirian listrik Bali. Namun, di sisi lain, Pemprov juga mengklaim gas alam sebagai energi bersih sehingga. Klaim ini menyesatkan karena gas alam adalah salah satu bahan bakar fosil. Pembangkit dengan bahan bakar gas alam akan melepaskan metana yang jauh berbahaya daripada CO2.

Bali tolak gas fosil

“Gas adalah pemulus menuju krisis iklim. Hentikan sekarang sebelum terlambat!”

Kenapa gas bukan solusi?

  1. Gas Fosil itu kotor menambah parah pemanasan bumi. Pembakaran gas alam akan melepaskan metana yang daya rusaknya 80 kali lebih kuat daripada CO2. Walaupun asap pembakaran gas tidak terlihat, bukan berarti lebih aman.
  2. Gas = transisi adalah greenwashing. Gas sebagai transisi energi adalah narasi menyesatkan karena gas berasal dari pengendapan fosil ratusan juta tahun lalu.
  3. Makin jauh dari target iklim global. Membangun pembangkit listrik tenaga gas = menambah polusi baru. Padahal Indonesia memiliki komitmen nol emisi
  4. Bali punya potensi energi terbarukan yang berlimpah. Bali menerima sinar matahari sepanjang tahun, memiliki potensi angin pesisir, dna arus laut. Tidak ada alasan teknis untuk bergantung pada energi fosil.
  5. Gas fosil bukan untuk kemandirian energi. Menggunakan gas sebagai bahan bakar pengganti batu bara akan memperpanjang ketergantungan Bali terhadap bahan bakar fosil.

Rakyat yang terkena dampak paling pertama saat krisis iklim terjadi, seperti:

  1. Suhu Bali terus naik, musim makin tak menentu. Emisi tambahan dari PLTG akan memperparah perubahan iklim yang akan memicu perubahan cuaca yang makin tidak menentu, curah hujan ekstrem, hingga kemarau panjang.
  2. Kenaikan muka air laut mengancam pesisir. Pantai-pantai cantik di Bali berpotensi tenggelam jika air laut makin naik karena kondisi iklim yang makin parah.
  3. Polusi udara mengancam kesehatan warga. PLTG menghasilkan partikel halus yang meningkatkan risiko penyakit pernapasan terutama lansia dan anak-anak di sekitar lokasi pembangkit.

Kami menuntut Pemprov Bali untuk sungguh-sungguh beralih ke energi terbarukan! Hentikan narasi menyesatkan gas sebagai energi bersih

Suaramu penting untuk masa depan Bali.

Sebarkan dan paksa mereka mendengar

Semakin banyak yang tahu, semakin kuat tekanan kita. Bagikan petisi ini sekarang

#GasBukanSolusi #TolakGasBali

Petisi Kepada Gubernur dan Jajaran Pemprov Bali


Gas Bukan Solusi: Gas Membawa Bencana dan Gas Menghambat Bali untuk Mandiri Energi.

Pemerintah Provinsi Bali sedang mendorong transisi energi untuk kemandirian listrik Bali. Namun, di sisi lain, Pemprov juga mengklaim gas alam sebagai energi bersih sehingga. Klaim ini menyesatkan karena gas alam adalah salah satu bahan bakar fosil. Pembangkit dengan bahan bakar gas alam akan melepaskan metana yang jauh berbahaya daripada CO2.

“Gas adalah pemulus menuju krisis iklim. Hentikan sekarang sebelum terlambat!”

Kenapa gas bukan solusi?

  1. Gas Fosil itu kotor menambah parah pemanasan bumi. Pembakaran gas alam akan melepaskan metana yang daya rusaknya 80 kali lebih kuat daripada CO2. Walaupun asap pembakaran gas tidak terlihat, bukan berarti lebih aman.
  2. Gas = transisi adalah greenwashing. Gas sebagai transisi energi adalah narasi menyesatkan karena gas berasal dari pengendapan fosil ratusan juta tahun lalu.
  3. Makin jauh dari target iklim global. Membangun pembangkit listrik tenaga gas = menambah polusi baru. Padahal Indonesia memiliki komitmen nol emisi
  4. Bali punya potensi energi terbarukan yang berlimpah. Bali menerima sinar matahari sepanjang tahun, memiliki potensi angin pesisir, dna arus laut. Tidak ada alasan teknis untuk bergantung pada energi fosil.
  5. Gas fosil bukan untuk kemandirian energi. Menggunakan gas sebagai bahan bakar pengganti batu bara akan memperpanjang ketergantungan Bali terhadap bahan bakar fosil.

Rakyat yang terkena dampak paling pertama saat krisis iklim terjadi, seperti:

  1. Suhu Bali terus naik, musim makin tak menentu. Emisi tambahan dari PLTG akan memperparah perubahan iklim yang akan memicu perubahan cuaca yang makin tidak menentu, curah hujan ekstrem, hingga kemarau panjang.
  2. Kenaikan muka air laut mengancam pesisir. Pantai-pantai cantik di Bali berpotensi tenggelam jika air laut makin naik karena kondisi iklim yang makin parah.
  3. Polusi udara mengancam kesehatan warga. PLTG menghasilkan partikel halus yang meningkatkan risiko penyakit pernapasan terutama lansia dan anak-anak di sekitar lokasi pembangkit.

Kami menuntut Pemprov Bali untuk sungguh-sungguh beralih ke energi terbarukan! Hentikan narasi menyesatkan gas sebagai energi bersih

Suaramu penting untuk masa depan Bali.

Sebarkan dan paksa mereka mendengar

Semakin banyak yang tahu, semakin kuat tekanan kita. Bagikan petisi ini sekarang

#GasBukanSolusi #TolakGasBali

Petisi Kepada Gubernur dan Jajaran Pemprov Bali

Hi !

We have your info saved from last time, just click the button below to continue.

Not ? Keluar
Jutaan orang melakukan aksi-aksi-aksi yang sederhana dan cepat untuk keadilan iklim – jadilah salah satu darinya. Dapatkah kami mengirimimu email tentang kampanye, cerita, dan aksi-aksi penting?

Dengan melakukan tindakan ini, kamu menyetujui ketentuan layanan dan kebijakan privasi kami. Kamu dapat berhenti berlangganan kapan saja.